Rabu, 31 Desember 2008

Ponsel sebagai budaya teknologi dan teknologi budaya

Sosial Budaya | 11.09.2008

Boom Handphone di Asia Selatan Picu Laju Ekonomi

Asia Selatan adalah pasar telefon seluler dengan perkembangan tercepat cepat di dunia. Boom telefon seluler ini juga menjangkau penduduk yang tinggal di kawasan pelosok dan menjadi jalan keluar tercepat dari kemiskinan.

Di India saja terdapat lebih dari 250 juta pengguna telefon seluler. Setiap pekan jumlah penggunanya bertambah 8 juta orang. Akses menggunakan handphone meningkatkan standar kehidupan banyak penduduk desa dan dengan demikian membantu perkembangan ekonomi negara yang bersangkutan. Bahkan pemenang hadiah nobel perdamaian asal Bangladesh, Mohammad Yunus menyatakan, telefon seluler adalah jalan tercepat keluar dari kemiskinan.

Sejak lama mitos yang berlaku adalah, kebanyakan penduduk miskin di dunia, tidak akan pernah melakukan pembicaraan melalui telefon. Karena ia tidak pernah sekalipun melihat telefon. Demikian dikatakan Helani Galpaya dari Lirne Asia, sebujah lembaga penelitian yang bergerak di bidang teknologi informasi dan komunikasi di Asia Selatan

"Kami telah melakukan penelitian secara luas, pada mereka yang termiskin dari kelompok miskin di India dan di negara-negara lain. Hasilnya sekitar 92 persen sudah menggunakan telefon seluler. Kami mengajukan pertanyaan kepada mereka Apakah Anda dalam tiga bulan terakhir menggunakan handphone, dan jawaban mereka, ya."

Saat ini di Bangladesh hampir sepertiga penduduk memiliki akses menggunakan handphone. Di India tingkat rata-ratanya hampir sama. Di Pakistan bahkan 50 persen penduduknya merupakan pengguna telefon seluler. Di Sri Lanka rata-rata penggunanya lebih tinggi.

Boom telefon seluler mengubah kehidupan di negara tersebut. Handphone telah mengubah warga desa biasa menjadi pengusaha kecil. Contoh paling terkenal untuk perkembangan itu adalah program telefon desa di Bangladesh. Program itu diluncurkan oleh Grameenphone, sebuah anak perusahaan Grameen Bank yang memperoleh hadiah nobel. Program telefon desa dimulai 10 tahun lalu yakni memberikan kredit kecil bagi para perempuan. Hal ini memungkinkan mereka memperoleh pendapatannya sendiri. Helani Galpaya

„Mereka membawa handphone, pergi menyusuri desa-desa dan menjual pembicaraan dengan hitungan per menit. Dan dengan begitu mereka membantu penduduk keluar dari kemiskinan. Jadi jelas ada peluang membebaskan penduduk dari kemiskinan melalui handphone."

Program penjaja jasa handphone disebut Ladies Phone. Kini di Bangladesh terdapat sekitar 216 ribu Ladies Phone. Program itu kemudian ditiru negara-negara tetangganya.

Di Bangladesh Grameenphone membangun jaringan telefon selulernya sendiri. Saat ini Grameenphone telah berhasil menghubungkan 44 juta orang pengguna. Handphone menjadi sarana penghubung antar warga, menciptakan lapangan kerja bagi mereka dan meningkatkan standar kehidupan mereka. Syed Yamin Bakht, juru bicara Grameenphone:

"Handphone membantu para pedagang kecil dalam bisnis perdagangan mereka, bagi para petani membantu mereka dalam informasi tentang harga pasar, sementara bagi para pengusaha memungkinkan perbaikan prestasi di berbagai bidang usahanya. Handphone berfungsi sebagai katalisator dan membantu seseorang meningkatkan produktivitasnya sendiri. Oleh sebab itu menurut saya, meningkatnya jumlah telefon seluler secara keseluruhan memiliki pengaruh positif bagi perekonomian nasional."

Hasil studi lembaga pendidikan ekonomi kondang Inggris, Londoner Business School membuktikan adanya keterkaitan antara penggunaan handphone dengan perkembangan ekonomi. Jika jumlah kontrak penggunaan telefon seluler meningkat 10 persen, kecepatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang mengalami keanikan 0,6 persen. Demikian hasil perhitungan studi Londoner Business School.

Tahun 2007 Grameenphone berhasil meraih omset sebesar 600 juta dollar. Namun investasi juga cukup besar. Demikian ditekankan Syed Yamin Bakht. Dalam 10 tahun terakhir Grameen-Bank bekerja sama dengan perusahaan telefon Norwegia, Telenor dan menanam investasi sekitar 1,3 milyar dollar untuk membangun jaringan dan pasar. Dari hasil omset dan penanaman investasi tersebut pada akhirnya negara dan masyarakat Bangladesh dapat menarik keuntungan

Syed Yamin Bakht: "Kami adalah pembayar pajak terbesar. Kami adalah mitra penanam modal asing terbesar di negara ini. Kami langsung mempekerjakan 5000 lulusan universitas. Lewat mitra usaha kami, pedagang eceran, pemasok, penjual dan berbagai pihak lainnya, kami berhasil menciptakan pendapatan bagi 200 hingga 300 ribu orang."

Dalam beberapa tahun terakhir, tarif penggunaan telefon dan harga telefon genggam menurun. Ini membuat semakin banyak orang mampu memilikinya. Telefon seluler mencegah terjadinya jurang digital antara warga miskin dan kaya. Demikian diungkapnya Yamin. Telefon seluler memungkinkan masyarakat miskin mendapat akses terhadap teknologi informasi modern.

Syed Yamin Bakht: "Kecenderungan di masa depan adalah semakin banyak orang di kawasan ini yang memperoleh hubungan internet lewat telefon genggam. Dan itu akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan media komunikasi yang lain. Sebab orang-orang lebih membutuhkan telefon seluler daripada komputer. Dan banyak orang yang tidak akan mampu memiliki keduanya. Oleh karenanya mereka akan memilih handphone dan dengan begitu mendapat akses ke internet."

Dengan perlengkapan sarana komunikasi tersebut, masyarakat di pedesaan akan dapat berpartisipasi lebih besar pada perkembangan ekonomi negaranya. Demikian perkiraan para pakar. Mereka meminta agar pemerintah negara-negara di Asia Selatan lebih memperluas liberalisasi pasar telefon seluler dan mengupayakan agar akses terhadap sarana komunikasi itu terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. (dk)

Minggu, 21 Desember 2008

Artikel Sejarah perkembangan televisi

Perkembangan Televisi

by LeniLestari87 @ 2007-08-09 - 03:59:01

TV MEKANIK

Mungkin susah untuk dipercaya. Namun, penemuan cakram metal kecil berputar dengan banyak lubang didalamnya yang ditemukan oleh seorang mahasiswa di Berlin-Jerman, 23 tahun, Paul Nipkow [1883], merupakan cikal bakal lahirnya televisi.

Kemudian disekitar tahun 1920, para pakar lainnya seperti John Logie Baird dan Charles Francis Jenkins, menggunakan piringan Nipkow ini untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, dan penerimaannya. Mereka membuat seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran maupun penerimaannya. Saat itu belum ditemukan Cathode Ray Tube [CRT].

Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar pada masa itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff, Senior Vice President dari RCA [Radio Corporation of America]. Sarnoff sudah banyak mencurahkan perhatian pada perkembangan TV mekanik, dan meramalkan TV elektronik akan mempunyai masa depan komersial yang lebih baik. Insinyur lain, Philo Farnsworth, juga berhasil mendapatkan sponsor untuk mendukung idenya, dan ikut berkompetisi dengan Vladimir.

TV ELEKTRONIK

Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan keduanya berhasil dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya yang sangat terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan menggunakan sistem yang sepenuhnya elektronik.

1939, RCA dan Zworykin siap untuk program reguler televisinya, dan mereka mendemonstrasikan secara besar-besaran pada World Fair di New York. Antusias masyarakat yang begitu besar terhadap sistem elektronik ini, menyebabkan the National Television Standards Committee [NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya untuk menstandarisasikan sistem transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan kemudian, seluruh stasiun televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah mengkonversikan sistemnya kedalam standard elektronik baru.

TV BERWARNA

Sebenarnya CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya beberapa tahun sebelum rivalnya, RCA. Tetapi sayang sekali bahwa sistem mereka tidak kompatibel dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS, yang sudah mengeluarkan banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka, harus menyadari kenyataan bahwa pekerjaan mereka berakhir sia-sia. RCA, yang belajar dari pengalaman CBS, mulai membangun sistem warna mereka sendiri. Mereka dengan cepat membangun sistem warna yang mampu juga untuk diterima sistem hitam putih [BW]. Setelah RCA memamerkan kemampuan sistem mereka, NTSC membakukannya untuk siaran komersial thn 1953.

TV SAAT INI

Plasma Display TV

Tampilan plasma diciptakan di Universitas Illinois oleh Donald L. Bitzer dan H. Gene Slottow pada 1964 untuk Sistem Komputer PLATO. Panel monochrome orisinal (biasanya oranye atau hijau) menikmati penggunaan yang bertambah pada awal 1970-an karena tampilan ini kuat dan tidak membutuhkan sirkuit memori dan penyegaran. Namun diikuti oleh kurangnya penjualan yang dikarenakan perkembangan semikonduktor memori membuat tampilan CRT sangat murah pada akhir 1970-an. Dimulai dari dissertasi PhD Larry Weber dari Universitas Illinois pada 1975 yang berhasil membuat tampilan plasma berwarna, dan akhirnya berhasil mencapai tujuan tersebut pada 1995. Sekarang ini sangat terangnya dan sudut pandang lebar dari panel berwarna plamsa telah menyebabkan tampilan ini kembali mendapatkan kepopulerannya.

Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

TV Braun HF1 Jerman tahun 1959Daftar isi [sembunyikan]

1 Perkembangan

2 Jenis televisi

3 Perkembangan baru

4 Lihat pula

[sunting]

Perkembangan

Dalam penemuan televisi (tv), terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

1876 - George Carey menciptakan selenium camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai sinar katoda.

1884 - Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut teleskop elektrik dengan resolusi 18 garis.

1888 - Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.

1897 - Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi dassar televisi layar tabung.

1900 - Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris.

1907 - Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.

1927 - Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi.

1929 - Vladimir Zworykin dari Rusia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT.

1940 - Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.

1958 - Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan dikemukakan Dr. Glenn Brown.

1964 - Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.

1967 - James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.

1968 - Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.

1975 - Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.

1979 - Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.

1981 - Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.

1987 - Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.

1995 - Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.

dekade 2000- Masing masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.

Memang benar banyak sebagian orang mengatakan kalau gambar yang dihasilkan TV LCD dan Plasma memiliki resolusi yang lebih tinggi. Tetapi kekurangannya adalah masa atau umur TV tersebut tidak dapat berumur panjang jika kita memakainya terus-menerus jika kalau dibandingkan dengan TV CRT atau yang di kenal sebagai Tivi biasa yang kebanyakkan orang pakai pada umumnya.

[sunting]

Jenis televisi

Televisi analog

Televisi digital

[sunting]

Perkembangan baru

Televisi digital (Digital Television, DTV)

TV Resolusi Tinggi (High Definition TV, HDTV)

Video Resolusi Ultra Tinggi (Ultra High Definition Video, UHDV)

Direct Broadcast Satellite TV (DBS)

Pay Per View

Televisi internet

TV Web

Video atas-permintaan (Video on-demand, VOD)

Gambar-dalam-Gambar (Picture-In-Picture, PiP)

Auto channel preset

Perekam Video Digital

DVD

CableCARD™

Pemrosesan Cahaya Digital (Digital Light Processing, DLP)

LCD dan Plasma display TV Layar Datar

High-Definition Multimedia Interface (HDMI)

The Broadcast Flag

Digital Rights Management (DRM)

Senin, 15 Desember 2008

Konvergensi media yang berhubungan dengan teknologi

Tantangan Masa Depan Konvergensi Media

Oleh: Anang Hermawan

Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT) selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni hadirnya beragam media yang menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi komunikasi massa tradisional. Pada dataran praktis maupun teoritis, fenomena yang sering disebut sebagai konvergensi media ini memunculkan beberapa konsekuensi penting. Di ranah praktis, konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan kepada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka. Tidak kalah serius, konvergensi media memberikan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya (Preston: 2001).

Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias ”pembaca” tinggal meng-click informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul.

Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu mem-by pass jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya. Di sisi lain, jurnalisme online juga memampukan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.

Pada aras teoritik, dengan munculnya media konvergen maka sejumlah pengertian mendasar tentang komunikasi massa tradisional terasa perlu diperdebatkan kembali. Konvergensi menimbulkan perubahan signifikan dalam ciri-ciri komunikasi massa tradisional atau konvensional. Media konvergen memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi dalam satu media sekaligus. Karenanya, terjadi apa yang disebut sebagai demasivikasi (demasssification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.

Dalam catatan McMillan (2004), teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi. Dahulu ketika internet muncul di penghujung abad ke-21, pengguna internet dan masyarakat luas masih mengidentikkannya sebagai ”alat” semata. Berbeda halnya sekarang, internet menjadi ”media” tersendiri yang bahkan mempunyai kemampuan interaktif. Sifat interactivity dari penggunaan media konvergen telah melampaui kemampuan potensi umpan balik (feedback), karena seorang khalayak pengakses media konvergen secara langsung memberikan umpan balik atas pesan-pesan yang disampaikan. Karakteristik komunikasi massa tradisional di mana umpan baliknya tertunda menjadi lenyap karena kemampuan interaktif media konvergen. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan baru di dalam melihat fenomena komunikasi massa. Disebabkan karena sifat interactivity media komunikasi baru, maka pokok-pokok pendekatan linear (SMCRE = source à message à channel à receiver à effect/feedback) komunikasi massa terasa kurang relevan lagi untuk media konvergen.

Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang kian cepat. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak. Singkatnya, konvergensi mengubah pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Di negara maju semacam Amerika sendiri terdapat tren menurunnya pelanggan media cetak dan naiknya pelanggan internet. Bahkan diramalkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang di negara tersebut masyarakat akan meninggalkan media massa tradisional dan beralih ke media konvergen. Jika tren-tren seperti itu merebak ke berbagai negara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peran pers online akan menggantikan peran pers tradisional.

Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada publik untuk memperluas pilihan akses media sesuai selera mereka. Dari sisi ekonomi media, konvergensi berarti peluang-peluang profesi baru di dunia industri komunikasi. Tidak kalah pentingnya di dalam mempersiapkan sumber daya yang mampu merespon kebutuhan pasar ke depan adalah sektor pendidikan. Pendidikan sekarang harus mampu merespon tantangan perubahan yang salah satunya diakibatkan oleh merebaknya media konvergen. Terutama untuk jenjang pendidikan tinggi, diperlukan bukan saja kurikulum yang merangkum pelbagai aspek teknis mekanis teknologi komunikasi baru (ICT); melainkan juga perlu ditanamkan kaidah-kaidah profesional sehingga pada saatnya nanti para lulusan dapat berkarya di masyarakat secara etis dan bertanggung jawab.

Regulasi Konvergensi
Sifat alamiah perkembangan teknologi selalu saja mempunyai dua sisi, positif dan negatif. Di samping optimalisasi sisi positif, antisipasi terhadap sisi negatif konvergensi nampaknya perlu dikedepankan sehingga konvergensi teknologi mampu membawa kemaslahatan bersama. Pada aras politik ini diperlukan regulasi yang memadai agar khalayak terlindungi dari dampak buruk konvergensi media. Regulasi menjaga konsekuensi logis dari permainan simbol budaya yang ditampilkan oleh media konvergen. Tujuannya jelas, yakni agar tidak terjadi tabrakan kepentingan yang menjadikan salah satu pihak menjadi dirugikan. Terutama bagi kalangan pengguna atau publik yang memiliki potensi terbesar sebagai pihak yang dirugikan alias menjadi korban dari konvergensi media.

Persoalan pertama regulasi menyangkut seberapa jauh masyarakat mempunyai hak untuk mengakses media konvergen, dan seberapa jauh distribusi media konvergen mampu dijangkau oleh masyarakat. Problem mendasar dari regulasi konvergensi media dalam konteks ini terkait dengan seberapa jauh masyarakat mempunyai akses terhadap media konvergen dan seberapa jauh isi media konvergen dapat dianggap tidak melanggar norma yang berlaku. Kekhawatiran sebagian kalangan bahwa isi media konvergen pada bagian tertentu akan merusak moral generasi muda merupakan salah satu poin penting yang harus dipikirkan oleh para pelaku media konvergen.

Beberapa pertanyaan pokok yang harus dijawab terkait dengan isu regulasi media konvergen adalah; pertama, siapa yang paling berkewajiban untuk membuat format kebijakan yang mampu mengakomodasi seluruh kepentingan aktor-aktor yang telibat dalam konvergensi dan kedua adalah bagaimana isi regulasi sendiri mampu menjawab tantangan dunia konvergen yang tak terbendung. Pertanyaan terakhir ini menarik, karena perkembangan teknologi umumnya selalu mendahului regulasi. Dengan kata lain, regulasi hampir selalu ketinggalan jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi komunikasi.

Dalam hal penciptaan regulasi konvergensi media, institusi yang paling berwenang membuat regulasi adalah pemerintah atau negara. Cara pandang demikian dapat dipahami jika dilihat dari fungsi negara sebagai regulatory agent di dalam menjaga hubungan antara pasar dan masyarakat. Di satu sisi negara memegang kedaulatan publik dan di sisi lain negara mempunyai apparatus yang berfungsi menjaga efektif tidaknya sebuah regulasi. Gambaran ideal dari hubungan tiga aktor konvergensi (negara, pasar, masyarakat) ini mestinya berlangsung secara harmonis dan seimbang. Jangan sampai terdapat salah satu pihak yang mendominasi yang lain, misalnya media konvergen cenderung mendominasi masyarakat, sementara masyarakat tidak punya pilihan lain selain menerima apa adanya tampilan-tampilan yang ada pada media.

Membangun sebuah regulasi yang komprehensif dan berdimensi jangka panjang tentu saja bukan hal yang mudah. Bahkan dalam konteks perkembangan teknologi komunikasi yang makin cepat, regulasi yang berdimensi jangka panjang nampaknya hampir menjadi satu hal yang mustahil. Adagium tentang regulasi yang selalu ketinggalan dibandingkan perkembangan teknologi mesti disikapi secara bijak. Pasalnya, sebuah bangunan kebijakan selalu mengandung celah multiinterpretasi sehingga bisa saja hal itu dimanfaatkan untuk menampilkan citraan media yang luput dari tujuan kebijakan. Di sisi lain, pada saat sebuah kebijakan disahkan dan dicoba diimplementasikan, boleh jadi telah muncul varian teknologi baru yang tak terjangkau oleh regulasi tersebut. Ini tidak berarti bahwa pembuatan regulasi tak harus dilakukan, bagaimanapun regulasi menjadi kebutuhan mendesak agar teknologi komunikasi baru tidak menjadi instrumen degradasi moral atau menjadi alat kelas berkuasa untuk menidurkan kesadaran orang banyak.

Regulasi tetap diperlukan untuk mengawal nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan antarmanusia itu sendiri. Beberapa isu menarik layak direnungkan dalam konteks penyusunan regulasi. Pertama adalah bagaimana pengambil kebijakan mendefinisikan batasan sektor-sektor yang akan dikenai kebijakan, misalnya saja soal hukum yang dapat dijalankan. Kedua bagaimana situasi pasar dan hak cipta diterjemahkan. Wilayah ini menyangkut soal self regulation dan kondisi standarisasi hak cipta. Ketiga, bagaimana soal akses pada jaringan media serta kondisi sistem akses itu sendiri. Persoalan seperti pengaturan decoder TV digital maupun content media menjadi layak kaji dalam hal ini. Keempat, akses pada spektrum frekuensi, kelima mengenai standar jangkauan atau sejauh mana media konvergen dapat dijangkau oleh khalayak serta apakah sebuah akses harus disertai dengan harga yang harus dibayar oleh khalayak. Dan terakhir menyangkut sejauh mana kepentingan khalayak diakomodasi oleh regulasi, misalnya sejauh mana freedom of speech dan kalangan minoritas benar-benar mendapat perlindungan dalam sebuah kebijakan.

**********
* sumber: http://abunavis.wordpress.com/2007/12/09/tantangan-masa-depan-konvergensi-media/


Dampak Konvergensi TI dan Telekomunikasi 

Oleh: Ikbal Maulana 

Banyak perangkat teknologi digital telah berhasil menyingkirkan perangkat lama yang berbasis teknologi analog dari pasaran. Kualitas kemampuan teknologi digital memang jauh lebih unggul. Pemutar musik digital memiliki suara yang lebih jernih. Video digital memiliki kualitas gambar yang jauh lebih baik dibandingkan video analog. Namun, dampak terbesar dari digitalisasi adalah terbukanya kemungkinan untuk mengintegrasikan produk-produk yang semula terpisah-pisah menjadi satu, atau yang dikenal dengan konvergensi teknologi. 

Konvergensi teknologi bisa dengan mudah kita dapati pada ponsel-ponsel canggih yang beredar di pasaran saat ini. Dengan ponsel tersebut kita bisa menelpon, mendengarkan musik, memotret, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan di komputer. Sepuluh tahun yang lalu kita membutuhkan peralatan yang berbeda-beda untuk melakukan itu semua. Bahkan melalui layanan 3G dan dengan ponsel yang sesuai, kita bisa berkomunikasi sambil bertatap wajah dengan lawan bicara kita, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di filem Dick Tracy atau filem-filem fiksi ilmiah yang mengisahkan masa depan. 

Digitalisasi memungkinkan data yang dihasilkan oleh suatu perangkat bisa diproses oleh perangkat lain. Misalnya, gambar yang dihasilkan kamera digital bisa diproses di komputer dengan software Photoshop. Hasil pengolahan foto ini kemudian dirangkai dengan tulisan-tulisan maupun gambar-gambar lain dengan menggunakan software desktop publishing untuk dijadikan majalah. Kemampuan memanfaatkan data yang sama dengan perangkat yang berbeda-beda, membuka jalan bagi konvergensi teknologi-teknologi digital. 

Perkembangan teknologi yang sangat cepat terutama diperlihatkan oleh konvergensi teknologi informasi (TI) dengan telekomunikasi. Kini orang bisa mengakses Internet dari mana-mana, termasuk dari kafe maupun taman, secara nirkabel. Ponsel yang dilengkapi GPS, yang memanfaatkan sinyal satelit, bisa membantu pengendara mobil menjelajahi daerah yang tidak dikenalinya. Pemilihan pemenang kontes-kontes menyanyi - seperti Indonesian Idol atau KDI - oleh pemirsa TV, dimungkinkan karena adanya jaringan telekomunikasi seluler untuk menyalurkan SMS dengan komputer yang menjalankan aplikasi SMS gateway. Dan, masih banyak lagi bentuk-bentuk konvergensi TI dan telekomunikasi yang telah dimanfaatkan di masyarakat. 

Konvergensi TI dan telekomunikasi mula-mula terjadi di level terminal (perangkat penerima) dan di level layanan jaringan secara terpisah. Di level terminal, perangkat ponsel secara bertahap menggabungkan perangkat-perangkat lain yang awalnya tidak berhubungan dengan telekomunikasi - pemutar musik, game console , kamera, sampai komputer saku atau personal data assistant (PDA) - melebur jadi satu. Jika perangkat telepon sambungan tetap hanya berfungsi sebatas untuk komunikasi suara, perangkat ponsel berkembang menjadi perangkat komunikasi, hiburan, sampai bisnis. Anak-anak muda bisa menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik atau bermain game di ponsel. Pebisnis yang semula mencemaskan waktunya bakal habis ditelan kemacetan lalu-lintas Jakarta, bisa memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sebagian pekerjaan kantor di mobil dengan PDA yang terintegrasi dengan ponsel. 

Di level jaringan, konvergensi teknologi menjadikan jaringan telekomunikasi - baik sambungan tetap maupun nirkabel - tidak hanya untuk mengalirkan suara, tetapi juga berbagai jenis data, termasuk untuk akses Internet. Mula-mula akses Internet hanya melalui komputer meja dari rumah atau kantor. Namun, layanan Internet melalui jaringan nirkabel memungkinkan orang mengakses Internet dari mana saja, dengan menggunakan komputer notebook ataupun PDA yang lebih mungil, tanpa tergantung lagi pada rentangan kabel. Saluran telekomunikasi satelit malah sudah lama memfasilitasi konvergensi layanan, mulai dari suara, data sampai siaran TV. 

Konvergensi terminal dan konvergensi jaringan secara sendiri-sendiri tidak berlangsung lama, ke dua level ini pun kemudian menjadi konvergen juga. Pengguna menjadi lebih dimanjakan lagi. Akses Internet bisa dilakukan langsung dari ponsel yang menjalankan browser. Bahkan tanpa Internet pun, melalui saluran telekomunikasi seluler orang bisa mengakses berbagai jenis informasi, termasuk melakukan transaksi perbankan. Mula-mula orang bisa chatting atau menelpon melalui komputer ke pengguna komputer lain, kini melalui komputer orang juga bisa menghubungi orang yang menggunakan ponsel. Di masa lalu, ketika di tengah perjalanan, PDA hanya berfungsi sebagai komputer stand alone , yang tidak terhubung ke mana-mana karena tidak bisa menjangkau jaringan komputer kantor, kini PDA yang menyatu dengan ponsel bisa secara terus-menerus terhubung dengan jaringan komputer kantor. Tanpa menunggu sampai kantor, seorang karyawan bisa mengakses basis data kantor. Akibatnya, jika dimanfaatkan secara cerdik, ponsel bisa menghemat kegiatan operasional perusahaan atau membuka peluang bisnis baru, bukan sekedar asesori pengangkat citra canggih dan keren saja. 

Sebagai media hiburan banyak kemungkinan bisa diwujudkan. Melalui jaringan seluler, gambar TV yang jernih bisa disebarkan. Selera musik kita bisa dipamerkan ke orang-orang yang menelpon kita berkat layanan ring back tone . Pengguna seluler juga bisa memperluas jangkauan dan mengintensifkan kontak sosialnya video call . Anak-anak muda bisa bermain game melawan orang lain yang berjauhan, atau bahkan yang tidak pernah ditemuinya sekalipun. 

Konvergensi TI dan telekomunikasi telah dan akan memberikan peluang-peluang baru dalam bisnis. Bahkan bagi Indonesia, perkawinan TI dan telekomunikasi seluler memiliki akibat bisnis yang lebih besar dibandingkan dengan Internet. Ketika paruh kedua tahun 90-an bisnis di Internet ( dotcom ) mengalami perkembangan luar biasa, sebagian kalangan bisnis di Indonesia juga memiliki harapan-harapan yang sama dengan yang ada di negara-negara maju. Maka, mulai dari tiruan Amazon sampai tiruan Yahoo bermunculan, pendirinya berharap bisa meraih sukses yang sama. Namun, sayangnya di Indonesia Internet ternyata merupakan media transaksi yang rawan kecurangan. Penggunaan kartu kredit orang lain, sampai pemalsuan identitas kerap terjadi. Contoh, penipuan yang dilakukan orang di tanah air, misalnya ketika BCA meluncurkan situs Internet banking, dalam waktu singkat bermunculan situs-situs palsu dengan nama mirip, sehingga sebagian nasabah BCA ada yang terjebak mengakses situs tersebut dan menyerahkan password atau kata sandinya, yang kemudian digunakan oleh pemilik situs palsu tersebut untuk menguras rekening nasabah. Untuk mengatasi pencurian kata sandi ini, kemudian BCA memberi nasabahnya alat keyBCA yang bisa menghasilkan kata sandi yang berubah-ubah setiap kali login, sehingga bisa mempersulit pemalsuan. Namun, hal ini tentu saja jadi agak mengurangi kenyamanan penggunaan Internet banking. 

Mobile banking atau transaksi perbankan melalui jaringan seluler tidak terganggu oleh masalah di atas. Penggunaan jaringan seluler untuk kepentingan transaksi komersial ( mobile commerce ) lebih aman, karena identitas pengguna lebih jelas, satu nomor ponsel hanya digunakan oleh satu orang. Sedangkan melalui Internet orang bisa mudah berganti-ganti komputer, sehingga identitasnya lebih sulit dilacak. Karena itulah mobile banking lebih sukses di tanah air. 

Selain karena pemalsuan, kegagalan Internet commerce di Indonesia antara lain dikarenakan biaya ( fee ) transaksi dengan kartu kredit yang relatif tinggi yang harus ditanggung penjual, sementara barang-barang yang mereka jual kebanyakan berharga rendah, seperti buku atau VCD. Hal ini membuat pembayaran dengan kartu kredit jadi tidak menarik. Akhirnya toko-toko buku online lebih banyak melakukan pembayaran tunai saat penyerahan barang atau cash on delivery (COD). Namun, secara bisnis COD hanya layak dilakukan jika pelanggan berada dalam kota yang sama dengan lokasi toko online . 

Mobile commerce membuka peluang bisnis yang lebih mudah bagi transaksi-transaksi kecil, karena pembayaran bisa dilakukan dengan pulsa. Pulsa ponsel telah menjadi mata uang dalam mobile commerce . Lihat saja bisnis yang telah dimanfaatkan dengan cara ini: pemesanan ring back tone , mengunduh ring tone atau game , berlangganan SMS dari artis atau SMS yang berisi pesan-pesan keagamaan, bahkan sampai memberikan sedekah atau sumbangan. 

Bisnis ring back tone bahkan bisa menjadi penyejuk industri musik yang sudah lama didera pembajakan. Sejumlah musisi, seperti Iwan Fals, Samsons, Letto sampai almarhum Chrisye, sempat mendistribusikan lagu-lagunya melalui jaringan telekomunikasi seluler. Lagu Letto yang berjudul Ruang Rindu mencapai angka 3,2 juta untuk penjualan ring back tone . Padahal jika dijual dalam bentuk kaset, untuk bisa laku 1 juta saja sudah sangat luar biasa. Penjualan ring back tone ini lebih bisa menghindari pembajakan. Bahkan penggemar musik juga tidak segan bertransaksi karena biayanya murah karena tidak ada media fisik - seperti keping CD atau kaset - yang digunakan, dan juga caranya mudah karena bisa dilakukan dari ponsel mereka di manapun mereka berada. Secara psikologis orang juga bisa mudah melakukannya karena mereka membayarnya dengan pulsa dalam jumlah kecil, sehingga mereka tidak merasa "mengeluarkan uang". 

Konvergensi teknologi memungkinkan orang dengan perangkat yang berbeda-beda mengakses atau bertukar data yang sama. Misalnya satu universitas memasukkan data nilai mahasiswa ke dalam basis data. Kemudian data nilai ini bisa diakses baik melalui situs Web universitas, maupun diakses melalui SMS. Pembicaraan melalui layanan VOIP, dulu harus dari komputer ke komputer. Sekarang dengan Skype, kita bisa menelpon dari komputer ke telepon rumah atau ke ponsel. 

Perkembangan konvergensi teknologi juga terlihat pada bisnis game. Mula-mula game dijalankan secara lokal, baik di komputer maupun di ponsel. Popularitas Internet mendorong orang untuk mengembangkan online game sehingga orang bisa bermain game melawan banyak orang yang berada di tempat berbeda-beda dan berjauhan. Popularitas online game juga dikarenakan orang lebih suka bermain melawan orang lain dibandingkan dengan melawan komputer. Online game ini tumbuh menjadi bisnis besar, karena untuk bisa bermain orang harus mendaftar dulu, yang kemudian bisa membayar atau gratis. Pengguna online game juga akan selalu tergantung pada server perusahaan penyedia layanan, sehingga bisnis ini tidak akan digerogoti pembajakan. Perkembangan berikutnya orang bisa bermain game yang sama melalui perangkat berbeda-beda. Sebagian orang bermain dari komputer, sebagian lainnya bermain dari ponsel. Game karya orang Indonesia, seperti Kurusetra misalnya, bisa diakses baik melalui Internet dengan komputer, maupun dengan ponsel melalui jaringan seluler. 

Demikianlah, konvergensi TI dan telekomunikasi telah dan masih akan terus melahirkan produk-produk baru dengan kemampuan-kemampuan baru, serta bisnis-bisnis baru pula.*** 

Penulis adalah peneliti di PTIK, BPP Teknologi. 

Sumber : http://tikometer.or.id/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=4&Itemid=9

Senin, 03 November 2008

Artikel pertekom

Artikel saya

Gelombang peradaban dunia (Alvin Toffler)
Sejarah budidaya manusia dibagi dalam tiga gelombang, yaitu Gelombang Pertama (8000 BC-1500), Gelombang Kedua (1500-1970), dan Gelombang Ketiga (1970- 2000).

Gelombang Pertama adalah gelombang pembaruan di mana manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian. Budaya manusia berubah dari teknologi pengumpulan hasil hutan ke penerapan teknologi pertanian. Manusia berubah dari kebiasaan berpindah-pindah, ke suatu kehidupan yang lebih cenderung tetap tinggal di satu tempat yang kita sebut desa pertanian.

Salah satu ciri masa Gelombang Pertama adalah penggunaan "baterai alamiah", yaitu baterai alam yang dapat menyimpan energi yang dapat diperbarui, di dalam otot-otot binatang, di dalam hutan, di dalam air terjun, angin, atau langsung dari matahari. Masyarakat Gelombang Pertama banyak sekali memakai kincir air dan kincir angin. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa masyarakat Gelombang Pertama hidup damai dan berintegrasi dengan alam sekelilingnya. Semua barang dan makanan yang diproduksi tidak untuk diperjual-belikan, tetapi untuk dikonsumsi oleh produsen sendiri, karena itu masyarakat dinamakan prosumen, suatu kombinasi dari dua-kata produsen dan konsumen. Konsep Pasar belum ditemukan.

Masyarakat Gelombang Kedua adalah masyarakat industri, yang sangat efisien dan cenderung memberi kesan sebagai "manusia-ekonomi" yang rakus, yang baru dilahirkan oleh renaissance (pencerahan) di Eropa. Adam Smith dengan bukunya The Wealth of Nations disusul oleh Darwin dengan bukunya The Origin of Species, mewarnai budaya renaissance dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan survival of the fittest dalam suatu seleksi alamiah versi Darwin. Pihak mana pun yang menang dalam seleksi alamiah, adalah pihak atau kelompok yang terpilih untuk hidup terus, memperbanyak diri dan menguasai sekelilingnya. Dominasi, pemusnahan peradaban beserta genocide terhadap kelompok etnik "kurang maju". Penjajahan beserta zaman imperialisme dan kolonialisme dimulai dalam Gelombang Kedua ini. Interpretasi yang salah dari teori Darwin ini, mungkin sekali terutama disebabkan oleh paham ideologi Social Darwinism dari Herbert Spencer: The Might Is Always Right.

Masyarakat Gelombang Kedua ini berbudaya produksi massa, pendidikan massa, konsumsi massa, media massa, yang cenderung berukuran raksasa. Berlainan dari Gelombang Pertama, masyarakat mulai memisahkan produsen dari konsumen, dan pasar adalah di mana produsen bertemu dengan konsumen. Konsep mula Ekonomi Pasar, yang masih banyak mengandung interpretasi salah (free-fight capitalism & monopoli), menjadi budaya masyarakat Gelombang Kedua ini.

Budaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tumbuh dengan pesat, beserta kecenderungan spesialisasi dan superspesialisasi berkembang. Konsep reductionism atau balkanisasi yang banyak membantu dalam perkembangan superspesialisasi ilmu pengetahuan dan teknologi ini, juga membawa budaya yang cenderung melupakan pengintegrasian kembali antara berbagai bidang ilmu, atau pun pengintegrasian kembali dengan keseluruhan Bumi dan alam semesta. Terjadi urbanisasi dan pembangunan kota-kota besar. Penggunaan energi yang tidak dapat diperbarui naik dengan cepat, dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup, mulai disadari pada akhir era Gelombang Kedua.

Menarik sekali untuk mengamati peradaban Gelombang-Ketiga, masyarakat informasi, yang banyak sekali memperlihatkan ciri-ciri yang sama seperti peradaban Gelombang Pertama, misalnya: karena kelangkaan bahan bakar fosil, kembali ke energi yang dapat
diperbarui., proses produksi cenderung menjauhi produksi massa yang terkonsentrasi., terjadinya deurbanisasi dan globalisasi, karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi.

Peradaban Gelombang Ketiga ini bukan suatu pengulangan kembali ke peradaban Gelombang Pertama, seperti kesan yang timbul karena sering dikaitkan dengan gerakan "Small is Beautiful". Menurut Toffler peradaban Gelombang Ketiga adalah suatu synthesa dari Gelombang Pertama (thesa) dan Gelombang Kedua (antithesa). Jadi merupakan suatu peradaban yang lebih bermutu, lebih dalam, luas, dan lebih menyeluruh dari kedua peradaban sebelumnya. Pembaruan ini terutama disebabkan oleh kemajuan teknologi transportasi, komunikasi & informasi yang memungkinkan jauh lebih banyak manusia mampu melihat semua fenomena yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi (mesh-networking), dalam cakupan yang lebih dalam dan lebih luas, sebagai suatu fenomena terintegrasi dengan seluruh Bumi dan Alam semesta. Pepatah yang lebih cocok adalah Small within Big is Beautiful. Peradaban Gelombang Kedua lebih mengutamakan pelipatgandaan kekuatan fisik manusia, sedangkan peradaban Gelombang Ketiga lebih mengutamakan pelipatgandaan kemampuan berpikir dan berbudidaya luhur manusia.

Ciri yang terpenting dan sangat manusiawi dari peradaban Gelombang Ketiga adalah pemberdayaan golongan masyarakat yang lemah dan kalah bersaing, sehingga menghilangkan perbudakan, imperialisme, dan apartheid dari muka Bumi ini. Pernyataan menyesal dan permintaan maaf atas budidaya perbudakan, apartheid, dan genocide bermunculan dari beberapa negara Barat. Pengertian Hak Asasi Manusia, dan Hak Hidup Minoritas (termasuk golongan wanita) mulai dapat diterima. Pengertian Ekonomi-Pasar dengan "natural selection on a level playing field" mengalami perubahan dan penyempurnaan, di mana monopoli & oligopoli (kompetisi antara si-Kuat melawan si-Lemah) dianggap tidak adil, karena akan merugikan konsumen dan tidak akan memunculkan inovasi dan inovator baru.

Di dalam peradaban Gelombang Kedua, perusahaan AT&T boleh tumbuh menjadi suatu konglomerat yang mempunyai monopoli dan menguasai pangsa pasar hampir mendekati 100 persen. Di dalam Gelombang Ketiga ini, AT&T dan Bill Gates (Microsoft) tidak diperkenankan tumbuh menjadi suatu monopoli, demi tetap terbukanya pintu masuk pasar bagi pendatang baru dengan inovasi baru. Demikian juga menurut Tobin, mengenai gejala monopoli yang muncul di dalam pasar finansial global, yang perlu mendapat perubahan pengaturan, sehingga mekanisme pasar dapat bekerja lebih baik.

http://www-st.ryu.titech.ac.jp/~indonesia/midori/artikel/evolusi.html


Jaringan komputer adalah sebuah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya yang terhubung. Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data, mencetak pada printer yang sama dan bersama sama menggunakan hardware/software yang terhubung dengan jaringan. Tiap komputer, printer atau periferal yang terhubung dengan jaringan disebut node. Sebuah jaringan komputer dapat memiliki dua, puluhan, ribuan atau bahkan jutaan node. Sebuah jaringan biasanya terdiri dari 2 atau lebih komputer yang saling berhubungan diantara satu dengan yang lain, dan saling berbagi sumber daya misalnya CDROM, Printer, pertukaran file, atau memungkinkan untuk saling berkomunikasi secara elektronik. Komputer yang terhubung tersebut, dimungkinkan berhubungan dengan media kabel, saluran telepon, gelombang radio, satelit, atau sinar infra merah.



INTERNET adalah kependekan dari Interconnected Network. Internet menghubungkan berbagai jaringan yang tidak saling bergantung pada satu sama lain, sehingga masing – masing dapat berkomunikasi. Jadi dapat dikatakan bahwa internet merupakan hubungan antar berbagai jenis komputer dan jaringan di dunia yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya di mana hubungan tersebut memanfaatkan kemajuan media komunikasi (telepon dan satelit) yang menggunakan protokol standar dalam berkomunikasi yaitu protokol TCP/IP.

Sejarah

Awal mula internet adalah sebuah jaringan yang disebut ARPANet. Pada tahun 1969 ARPA (Advanced Research Project Agency), sebuah bagian dalam kementerian Pertahanan Amerika Serikat memulai sebuah proyek, yang bertujuan menciptakan jalur komunikasi yang tak dapat dihancurkan dan disisi lain memudahkan kerjasama antar badan riset diseluruh negeri. Jadi pada awalnya ARPANet hanya untuk kepentingan pertahanan militer. Namun pada perekembangan selanjutnya internet menjadi media komunikasi dan informasi modern.

Seiring dengan perkembangan jaringan komputer yang melakukan perukaran data serta bertambahnya berbagai sistem operasi lain menuntut solusi baru komunikasi yang tak terbatas antar semua badan yang tergabung dalam jaringan. Untuk itu dibuat Internetting Project, guna mengembangkan lebih lanjut hasil yang telah dicapai dalam ARPANet. Internetting Project dibuat agar media komunikasi ini juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai sistem komputer yang ada. Kemudian berbagai pihak meramaikan lalu lintas jaringan tersebut untuk berbagai kebutuhan sehingga terciptalah INTERNET.

Sedangkan Website, world wide web, web, site, atau situs mengandung makna yang sama yaitu kumpulan halaman-halaman web yang berisi text, gambar, video, dan materi digital lainnya yang diletakkan atau dihosting di web server yang biasanya diakses mengunakan teknologi internet.

http://www.caramembuat.com/perbedaan-website-dengan-blog.html

Senin, 22 September 2008

Banten menuju dunia pertelevisian yang kompeten

Saya ingin bercerita tentang perjalanan mahasiswa jurnalistik Untirta smstr 5 pada saat kunjungan k Banten TV dalam rangka studi banding untuk mata kuliah "produksi siaran tv." Kunjungan tersebut dilaksanakan Senin lalu tepatnya tanggal 15 September. Dalam kunjungan ini kami hendak menanyakan tentang segala macam kegiatan yang terkait dengan produksi berita d tv selain itu juga ingin mengetahui segala macam kegiatan produksi dan pasca produksi siaran tv disana.
Awalnya kami diterima oleh staff disana yang bersedia untuk melayani kami yang hendak bertanya. Beliau menjelaskan segala macam apa yang ada di Banten tv, mulai dari ruang produksi sampai segala macam transmitter yang digunakan. Ada beberapa ruangan-ruangan khusus yang terdapat disana. Semuanya punya fungsi yang beragam.
Ruangan tersebut mempunyai spec yang lumayan canggih untuk teknologi penyiaran. Ada switcher room yang terdapat alat switcher disana, ada ruang editing dan tempat yang disediakan untuk mendubbing suara. Ada juga studio untuk syuting berita. Didalamnya dilengkapi dengan kamera transporter. Kamer yang digunakan dalam peliputan adalah kamera 3ccd.
Dalam mendukung penyiarannya, Banten tv menggunakan transmitter atau pemancar yang berkekuatan 10.000 watt yang sanggup menjangkau seluruh wilyah Banten. Sebelumnya saat daya listrik transmitter tersebur belum ditambah jangkauannya hanya mampu diterima oleh beberapa wilyah Banten saja. Untuk saat ini Banten tv merupakan stasiun tv lokal yang akan mempunyai pengaruh besar di Bnaten dengan apa yang mereka punya dan yang sedang mereka kembangkan.



Fadhlan Ashari R.
Jurnal V E
061622

Senin, 15 September 2008

Artikel Pertekom

Perkembangan Teknologi komunikasi berlangsung secara cepat. Segala macam alat komunikasi diciptakan tiap hari mungkin. Dengan spesifikasi yang bermacam-macam tentunya. Dari zaman ke zaman alat komunikasi yang canggih selalu menjadi isu atau berita yang banyak orang perbincangkan. Dalam hakikatnya suatu teknologi informasi diciptakan untuk memudahkan setiap orang yang melakukan komunikasi. Satelit komunikasi contohnya dibuat guna memudahkan komunikasi yang dilakukan lintas jarak dan waktu yang sekupnya internasional.

Keberadaan stelit ini sangat bermanfaat mengingat betapa pentingnya proses komunikasi. Dengan cepat dan mudah, kita bisa berkomunikasi dengan mudah. Bnayak orang mengharapkan suatu cara yang dapat memudahkan kita berkomunikasi. Seiring perkembangan zaman hal itu pun dapat diwujudkan.

Kini disaat teknologi berkembang pesat, ternyata hal ini tidak saja membuat sesuatunya menjadi baik. Banyak orang yang tidak bijak dalam menggunakan alat komunikasi yang ada saat ini. Sering terjadi kasus orang yang tidak arif dalam mengartikan adanya alat komunikasi misalnya. Seperti menyalahgunakan handphone sebagaimana fungsinya. Saat ini terlihat hanya seperti gaya hidup yang menganggap barang mewah sebagai ukuran kebahagian daripada fungsi sebenarnya untuk berkomunikasi.

Hal tersebut membuat masyarakat menjadi konsumtif. Apalagi perkembangan teknologi komunikasi ini akan terus berkembang tiap waktunya. Pastinya membuat semua orang sangat ingin mengikuti apa yang sedang berkembang. Memang kembali ke sifat dasar manusia yang tak pernah puas terhadap sesuatu. Ini cenderung dapat merubah budaya yang hidup disekitar kita. Seharusnya dalam menyikapi perkembangan teknologi ini kita sebagai pelakun komunikasi haruslah lebih bijak melihatnya. Jadikanlah sesuatu itu sebagaimana mestinya, jangan membuat sesuatu yang ada menjadi tidak bararti apa-apa nantinya.



Fadhlan Ashari R

Jurnal V E