Sosial Budaya | 11.09.2008
Boom Handphone di Asia Selatan Picu Laju Ekonomi
Asia Selatan adalah pasar telefon seluler dengan perkembangan tercepat cepat di dunia. Boom telefon seluler ini juga menjangkau penduduk yang tinggal di kawasan pelosok dan menjadi jalan keluar tercepat dari kemiskinan.
Di India saja terdapat lebih dari 250 juta pengguna telefon seluler. Setiap pekan jumlah penggunanya bertambah 8 juta orang. Akses menggunakan handphone meningkatkan standar kehidupan banyak penduduk desa dan dengan demikian membantu perkembangan ekonomi negara yang bersangkutan. Bahkan pemenang hadiah nobel perdamaian asal Bangladesh, Mohammad Yunus menyatakan, telefon seluler adalah jalan tercepat keluar dari kemiskinan.
Sejak lama mitos yang berlaku adalah, kebanyakan penduduk miskin di dunia, tidak akan pernah melakukan pembicaraan melalui telefon. Karena ia tidak pernah sekalipun melihat telefon. Demikian dikatakan Helani Galpaya dari Lirne Asia, sebujah lembaga penelitian yang bergerak di bidang teknologi informasi dan komunikasi di Asia Selatan
"Kami telah melakukan penelitian secara luas, pada mereka yang termiskin dari kelompok miskin di India dan di negara-negara lain. Hasilnya sekitar 92 persen sudah menggunakan telefon seluler. Kami mengajukan pertanyaan kepada mereka Apakah Anda dalam tiga bulan terakhir menggunakan handphone, dan jawaban mereka, ya."
Saat ini di Bangladesh hampir sepertiga penduduk memiliki akses menggunakan handphone. Di India tingkat rata-ratanya hampir sama. Di Pakistan bahkan 50 persen penduduknya merupakan pengguna telefon seluler. Di Sri Lanka rata-rata penggunanya lebih tinggi.
Boom telefon seluler mengubah kehidupan di negara tersebut. Handphone telah mengubah warga desa biasa menjadi pengusaha kecil. Contoh paling terkenal untuk perkembangan itu adalah program telefon desa di Bangladesh. Program itu diluncurkan oleh Grameenphone, sebuah anak perusahaan Grameen Bank yang memperoleh hadiah nobel. Program telefon desa dimulai 10 tahun lalu yakni memberikan kredit kecil bagi para perempuan. Hal ini memungkinkan mereka memperoleh pendapatannya sendiri. Helani Galpaya
„Mereka membawa handphone, pergi menyusuri desa-desa dan menjual pembicaraan dengan hitungan per menit. Dan dengan begitu mereka membantu penduduk keluar dari kemiskinan. Jadi jelas ada peluang membebaskan penduduk dari kemiskinan melalui handphone."
Program penjaja jasa handphone disebut Ladies Phone. Kini di Bangladesh terdapat sekitar 216 ribu Ladies Phone. Program itu kemudian ditiru negara-negara tetangganya.
Di Bangladesh Grameenphone membangun jaringan telefon selulernya sendiri. Saat ini Grameenphone telah berhasil menghubungkan 44 juta orang pengguna. Handphone menjadi sarana penghubung antar warga, menciptakan lapangan kerja bagi mereka dan meningkatkan standar kehidupan mereka. Syed Yamin Bakht, juru bicara Grameenphone:
"Handphone membantu para pedagang kecil dalam bisnis perdagangan mereka, bagi para petani membantu mereka dalam informasi tentang harga pasar, sementara bagi para pengusaha memungkinkan perbaikan prestasi di berbagai bidang usahanya. Handphone berfungsi sebagai katalisator dan membantu seseorang meningkatkan produktivitasnya sendiri. Oleh sebab itu menurut saya, meningkatnya jumlah telefon seluler secara keseluruhan memiliki pengaruh positif bagi perekonomian nasional."
Hasil studi lembaga pendidikan ekonomi kondang Inggris, Londoner Business School membuktikan adanya keterkaitan antara penggunaan handphone dengan perkembangan ekonomi. Jika jumlah kontrak penggunaan telefon seluler meningkat 10 persen, kecepatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang mengalami keanikan 0,6 persen. Demikian hasil perhitungan studi Londoner Business School.
Tahun 2007 Grameenphone berhasil meraih omset sebesar 600 juta dollar. Namun investasi juga cukup besar. Demikian ditekankan Syed Yamin Bakht. Dalam 10 tahun terakhir Grameen-Bank bekerja sama dengan perusahaan telefon Norwegia, Telenor dan menanam investasi sekitar 1,3 milyar dollar untuk membangun jaringan dan pasar. Dari hasil omset dan penanaman investasi tersebut pada akhirnya negara dan masyarakat Bangladesh dapat menarik keuntungan
Syed Yamin Bakht: "Kami adalah pembayar pajak terbesar. Kami adalah mitra penanam modal asing terbesar di negara ini. Kami langsung mempekerjakan 5000 lulusan universitas. Lewat mitra usaha kami, pedagang eceran, pemasok, penjual dan berbagai pihak lainnya, kami berhasil menciptakan pendapatan bagi 200 hingga 300 ribu orang."
Dalam beberapa tahun terakhir, tarif penggunaan telefon dan harga telefon genggam menurun. Ini membuat semakin banyak orang mampu memilikinya. Telefon seluler mencegah terjadinya jurang digital antara warga miskin dan kaya. Demikian diungkapnya Yamin. Telefon seluler memungkinkan masyarakat miskin mendapat akses terhadap teknologi informasi modern.
Syed Yamin Bakht: "Kecenderungan di masa depan adalah semakin banyak orang di kawasan ini yang memperoleh hubungan internet lewat telefon genggam. Dan itu akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan media komunikasi yang lain. Sebab orang-orang lebih membutuhkan telefon seluler daripada komputer. Dan banyak orang yang tidak akan mampu memiliki keduanya. Oleh karenanya mereka akan memilih handphone dan dengan begitu mendapat akses ke internet."
Dengan perlengkapan sarana komunikasi tersebut, masyarakat di pedesaan akan dapat berpartisipasi lebih besar pada perkembangan ekonomi negaranya. Demikian perkiraan para pakar. Mereka meminta agar pemerintah negara-negara di Asia Selatan lebih memperluas liberalisasi pasar telefon seluler dan mengupayakan agar akses terhadap sarana komunikasi itu terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. (dk)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar